KORANJURI.com - Ritual Sabung Ayam Di Desa Kelusa

HOME | Mimbar | Delik | Rekam Kejadian | Pendidikan | Ekbis | Hiburan | Distrik Wisata | Seni Budaya | Akselerasi | Mail Contact | Foto




AA Ngurah Agung Ucapkan Selamat Kepada Caleg Terpilih
Anak Agung Ngurah Agung, Caleg Partai Golkar untuk DPRD provinsi Bali legowo

Dua Caleg Ini Laporkan Penggelembungan Suara
Dugaan penggelembungan suara atas Caleg DPRD Provinsi Bali...

KPU Rote Ndao Rekomendasi Pidana
Kepolisian Resort Rote Ndao dalami dua kasus tindak pidana pemilu...

Kedatangan Artis Sinetron, Mesir:
Nyoman Mesir menyempatkan berfoto bareng artis sinetron Jeremy Thomas

WEBTORIAL INDEKS



Ritual Sabung Ayam Di Desa Kelusa


2 Agustus 2011 | Koranjuri.com


GIANYAR (KORANJURI.COM) - Sabung ayam yang dilakukan warga desa Pakraman Kelusa, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar ini, cukup unik. Ribuan ayam yang dibawa oleh ribuan warga, diadu dalam waktu bersamaan. Dan, ini merupakan tradisi yang diyakini warga setempat dapat menyelamatkan ternak di desa setempat dari wabah penyakit hingga mati secara massal.

Di kalangan masyarakat Bali, tajen sudah dikenal sejak ratusan tahun silam dan berkembang dari zaman ke jaman. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan Tajen bagi masyarakat Pulau Dewata sudah mendarah daging.

Sabung ayam di Bali yang dikenal dengan istilah tajen ini, layaknya orang berperang dengan membawa senjata. Ya, para penyabung ayam tersebut melengkapi ayamnya dengan sebilah taji yang terbuat dari besi baja mengkilat dan sangat tajam. Taji itu merupakan perlengkapan tempur yang harus dibawa ayam-ayam yang akan diadu.

Para pemilik ayam itu, hampir semuanya memiliki koleksi berbagai bentuk dan ukuran taji. Jika taji-taji itu tidak digunakan, mereka menyimpannya dalam sebuah dompet khusus sehingga akan terawat dengan baik. Jika sudah waktunya dikeluarkan, pemilik ayam itu akan mengikatkan taji tambahan tersebut di kaki ayam. Jadi, dalam permainannya, hanya sekali gebrak, satu terkapar dan pertandingan usai.

Betapa tidak? Ujung taji yang sangat runcing itu dengan mudah akan menancap ke tubuh lawan atau mengenai leher sampai tembus. Begitu tertembus, dipastikan ayam naas itu langsung keok, tanpa dapat berkutik lagi. Semuanya tergantung, kehandalan dan kemahiran bertanding dari ayam yang dipiara oleh warga.

Dalam beberapa tahun belakangan, ayam yang diadu pada tajen massal ini, betul-betul ayam jago yang dipelihara secara khusus untuk kepentingan aduan. Jadi, semua ayamnya benar-benar pilihan dan dirawat secara khusus untuk diadu, kata I Gusti Suryawan, salah satu peserta dalam tajen massal itu.

Arena pertandingan tajen massal itu berada di areal halaman di Pura Hyang Api di Desa Pakraman Kelusa. Menurut Gusti Suryawan, hal itu terkait dengan kaul atau janji warga desa disana kepada Bhatara dan Dewa yang beristana di Pura Hyang Api. Dalam janji itu, warga harus melakoni sabung ayam terkait dengan berkah keselamatan untuk ternak-ternak lain, seperti sapi atau babi yang dipiara oleh warga.

Kalau tidak dilaksanakan, akibatnya lebih parah dari ini. ibaratnya kita memberikan persembahan dari hewan yang kita piara, berupa ayam, untuk menghindarkan dari wabah yang mengancam ternak kami yang lain seperti sapi maupun babi, terang Gusti Suryawan.

Diceritakan Suryawan, di era tahun 1970-an, masing-masing warga membawa seekor ayam yang ditangkap di pekarangannya untuk diadu di halaman pura dengan ayam yang dibawa oleh warga lainnya. Begitu atraksi sabungan ayam selesai, setelah ditentukan ada yang kalah dan menang, warga kemudian sembahyang di pura dan kembali ke rumahnya masing-masing. Sebagian besar warga desa Pekraman Kelusa melakoni hal itu dengan penuh kepercayaan.

Pertandingan itu berlangsung cukup singkat. Sejak pukul 06.00 pagi warga sudah berbondong-bondong menuju Pura Hyang Api. Jika disana sudah ada warga lain, berarti pertandingan bisa langsung dimulai tanpa persetujuan atau perundingan terlebih dahulu dari pemilik ayam. Lokasinya pun boleh dimana saja asal ada tempat yang kosong di sekitar tempat suci tersebut. Jadi, pertandingannya tidak lagi tergantung pada aturan yang berlaku seperti umumnya tajen yang lazim dilakukan di Bali.

Sebulan Penuh

Tajen secara massal itu berlangsung satu bulan lebih atau totalnya selama 42 hari. Karena cukup lamanya tenggang waktu tersebut, warga biasanya melakukan hal itu selama tujuh hari berturut-turut mulai hari Suci Kuningan. Gusti Suryawan menjelaskan, lepas tujuh hari, tajen massal dilakukan setiap pasaran Kliwon atau lima hari sekali, hingga genap 42 hari.

Meski begitu, setiap hari pun ada saja warga yang membawa ayam untuk diadu. Hanya saja, jumlahnya tak seramai pada saat Kliwon yang bisa mencapai ribuan orang silih berganti, terang Suryawan.

Keramaian itu juga terlihat dari banyaknya orang yang membuka warung dadakan. Jadi, situasinya hampir mirip seperti pasar malam. Kembali pada tradisi sabung ayam massal, seharusnya, menurut Suryawan, tradisi itu umumnya dilakukan tanpa taruhan, namun belakangan tidak tertutup kemungkinan hal itu bisa terjadi.

Karena ini sudah merupakan tradisi, jika dilaksanakan sesuai dengan kesadaran warga masyarakat justru akan berpengaruh positif, karena tajen dapat menyeimbangkan kepentingan duniawi dengan spiritual. Artinya, selain dapat menjadi hiburan, tajen juga dapat menjadi sarana penggalian dana, terang Suryawan.

Sebagai bentuk hiburan, terlihat sekali suasana semarak ketika dua atau tiga kalangan tanding sedang menjajal kehebatan ayam-ayam aduan mereka. Teriakan dan sorak sorai warga tak pernah putus, hingga satu ayam dipastikan meregang nyawa tak berkutik lagi. Bagi mereka yang ayam aduannya kalah pun, tidak menunjukkan ekspresi kekecewaan. Terlihat sangat lumrah dan wajar-wajar saja. Jika ada yang bertaruh, umumnya, bukan dilakukan oleh pemilik ayam, melainkan dari warga lain yang statusnya sebagai penonton atau kelompok yang disebut sebagai bebotohnya.

Oportunis Kaki Ayam

Sebagian orang mencari hiburan, sebagian mendapatkan keuntungan dan ada lagi orang yang mencari peluang dengan mengumpulkan ceker-ceker ayam yang kalah bertanding. Tugas seperti ini tanpa harus ditunjuk terlebih dahulu. Yang jelas, mereka selalu ada dalam setiap pertandingan dengan mendekati setiap kalangan tanding untuk menanti kekalahan. Jika ayam yang diadu salah satunya sudah terkapar, pengumpul ceker ini, dengan enteng langsung menangkap dan membabat kedua kaki ayam tanpa ampun.

Padahal jika dilihat, tidak semua ayam yang tertembus taji akan mati. Beberapa diantaranya, sebenarnya masih bisa diselamatkan. Tapi, bagi para penyabung ayam, memelihara ayam kalah dianggap sudah tidak ada gunanya lagi. Karenanya, kekalahan akan membawa nasib unggas-unggas itu ke tungku penggorengan. Jadi sangat jamak, usai bertanding dan kalah, pemiliknya akan membawa pulang piaraannya dalam bentuk daging yang sudah dikuliti.

Orang yang mengumpulkan ceker ayam itu tidak menyabung ayam tapi hanya meminta sebagian tubuh ayam dari si pemilik. Ceker-ceker itu dikumpulkan dan dijual. Kalau dagingnya sudah jelas yang bawa pemiliknya sendiri, terang I Wayan Kota, warga lain yang juga menjadi partisipan dalam sabung ayam secara massal itu.

Memasuki hari keenam pesta sabung ayam tersebut, I Wayan Kota mengaku sudah kalah sebanyak delapan kali dan menang dua belas kali. Ia mengaku, kali ini cukup beruntung karena ayam aduannya punya stamina bagus dengan semangat tempur yang luar biasa. Berbeda dengan tradisi yang sama pada Kuningan sebelumnya, ia justru mengalami banyak kekalahan.

Karena telah menjadi tradisi dalam setiap perayaan hari Raya Kuningan, jumlah ayam yang diadu sangat banyak. Satu peserta bahkan sampai membawa puluhan ekor ayam. Malah, tak jarang mereka membawa mobil pick up untuk membawa ayam-ayam yang akan disabung. Jadi, begitu memasuki desa Pakraman Kelusa, ratusan kandang jinjing berderet di sepanjang jalan dan samping Pura Hyang Api.

Dari dulu saya memang sangat suka piara ayam. Jadi karena hobi saja, mengapa saya punya ayam banyak. Khususnya dalam tajen massal ini, saya menganggap sebuah tradisi yang harus kami jalankan dan lestarikan sebagai peninggalan nenek moyang kami, terang Wayan Kota.


Sis-WD






Akselerasi

Menteri PU: PDAM Perlu Tingkatkan Kinerja

KORANJURI.COM Menteri Pekerjaan Umum, Joko Kirmanto mengkritisi Perusahaan Daerah Air Minum belum mampu...

  • 100 Hektar Lahan Pertanian Baru di Rote Mulai Digarap
  • Juli Bali Mulai Berlakukan Pajak Progresif
  • Ekbis

    Pegadaian Rambah Bisnis Properti

    KORANJURI.COM - Untuk memaksimalkan aset Pegadaian Rambah Bisnis Properti. Beberapa aset tanah juga akan dibangun hotel bintang III

  • Aset BPD Bali Cabang Tuban Capai Rp 1,8 T...
  • Syahrini Meriahkan Penyerahan Hadiah Undian
  • Distrik Wisata

    Eksotisme Nemberala Mulai Tersentuh

    KORANJURI.COM - Alat musik Sasandu dan Keindahan Pantai Nemberala gaungnya sudah mendunia...



    Seni Budaya

    Pura Ini Konon Jadi Pusat Kekuatan Nusantara

    KORANJURI.COM - Pura Batu Api di wilayah Serangan baru terkuak tiga tahun lalu...

  • Proses Tahbisan Sulinggih
  • Ogoh-ogoh Satria Piningit Meriahkan Malam Nyepi