KORANJURI.com - Ritual Darah Di Desa Bali Aga

HOME | Mimbar | Delik | Rekam Kejadian | Pendidikan | Ekbis | Hiburan | Distrik Wisata | Seni Budaya | Akselerasi | Mail Contact | Foto




Untuk Jero Wacik, Koster: Semoga Pak Wacik Tahan Mental
Sebagai sahabat dan politisi yang berasal dari Bali, Koster mengaku perihatin....

Birawa: Kesenjangan di Bali Masih Tajam
Dilantiknya 55 angggota DPRD Bali periode 2014-2019 ...

Adi Wiryatama: Persoalan Reklamasi Seperti Benang Kusut
Anggota DPRD Bali terpilih Nyoman Adi Wiryatama....

Ngurah Agung Siap Meramaikan Bursa Pilkada Denpasar
Tokoh Puri Gerenceng Anak Agung Ngurah Agung menyatakan kesiapannya....




Ritual Darah Di Desa Bali Aga


29 Mei 2010 | Koranjuri.com



Mekare atau Perang Pandan merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan warga desa Tenganan Pengringsingan, Karangasem, Bali. Keunikan di Desa Bali Aga atau Bali Asli itu, juga tidak ada tradisi pembakaran jenasah (ngaben) serta Hari Raya Nyepi


KARANGASEM (KORANJURI.COM) - Mekare adalah tradisi unik di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Dengan bersenjatakan pandan berduri dan tameng, sesama warga saling sabet satu sama lain hingga berdarah-darah. Mereka meyakini, dengan mengucurnya darah, kemakmuran dan kesuburan akan datang berlimpah di desa mereka.

Bukan saja sarat dengan tradisi unik, lokasi desa itu juga menyiratkan hal yang sama. Untuk masuk ke desa Tenganan Pegringsingan, ada sebuah bangunan layaknya loket yang menjual tiket masuk, disana juga ada penjaganya.

Meski, secara resmi orang yang datang tidak dipungut biaya, namun banyak yang terkecoh untuk membeli karcis. Siang itu antrian di depan loket pun berjubel dan kebanyakan turis asing.

Kalau ada yang membeli ya kita layani, karena semua untuk kepentingan desa, tapi kita nggak pernah maksa orang untuk bayar, ujar petugas disana.

Tradisi Mekare merupakan tradisi rutin yang digelar warga desa Bali Aga, Tenganan Pegringsingan setiap setahun sekali. Tepatnya, pada Umanis Galungan atau sehari setelah hari raya Galungan.

Menurut I Mangku Widya, sesepuh adat, selain mengadakan ritual suci, tradisi mekare diadakan untuk menarik kunjungan wisata di desa Bali Asli tersebut.

Disini tradisinya berbeda dengan desa Bali pada umumnya. Contoh lain selain perang pandan, kita tidak mengenal ngaben dan kalau ada orang meninggal mayatnya harus dikubur dengan posisi tertelungkup, dalam keadaan telanjang dan menghadap arah barat, jelas Mangku Widya.

Melihat senjata yang akan digunakan untuk adu tanding dalam ritual perang itu, memang ada rasa ngeri. Betapa tidak, pandan yang digunakan adalah jenis pandan yang dipenuhi dengan duri disetiap sisinya. Selain itu, daun pandan disusun sebanyak 15 helai kemudian diikat tak ubahnya pedang di tangan ksatria.

Sebelum perang dimulai, para jawara dari beberapa kampung berkumpul sambil bersorak menantang para jawara dari desa lain. Mereka berkumpul di balai-balai atau rumah tradisional adat setempat dengan diiringi tabuhan gamelan. Peserta perang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa.

Selain senjata daun pandan, peserta juga dibekali sebuah tameng yang terbuat dari anyaman rotan. Namun tameng ini biasanya jarang dipergunakan, karena masing-masing peserta justru senang tubuhnya tertusuk atau teriris duri.

Bagi mereka darah yang keluar merupakan persembahan bagi dewa Indra, dewa perang sekaligus dewa kemakmuran.

Aksi mereka cukup memukau perhatian warga, termasuk turis asing. Sementara bagi peserta, terutama bagi anak-anak dan remaja, ajang ini selain untuk menjalankan tradisi juga untuk adu nyali tampil di depan umum.

Ketut Suparta, peserta perang pandan menuturkan, saat beradu tanding dengan lawannya ia tak merasakan sakit sedikitpun meski luka-luka bilur di punggung sudah mengucurkan darah, namun baru ketika diberikan obat sakit itu baru terasa.

Ya sedikit perih, tapi sebentar saja, ujarnya.

Namanya juga perang, masing-masing lawan ingin saling melumpuhkan satu sama lain. Malah terkadang, ada peserta yang benar-benar tak mampu mengendalikan emosinya dan menyabetkan senjata ditangannya secara membabi buta ke tubuh lawan.

Kalau sudah demikian, peserta lain akan melerai dan pertandingan diganti oleh peserta lain.

Menurut I Nengah Madri, Perbekel (lurah, red) desa setempat, rasa sakit yang muncul adalah bagian dari ritual untuk persembahan bagi sang dewa perang.

Pasti sakit. Tapi, sebelumnya kita berikan arahan kepada peserta agar jangan sampai ada rasa dendam, karena mereka adalah bagian dari tradisi itu sendiri, terang pria berkacamata ini.


way



Artikel Terkait

Bangga Ikut Berperang

Perempuan Diwajibkan Trampil Memasak


Pendidikan

IKIP PGRI Bali Jadi Perguruan Pertama Terapkan KKNI di Bali

KORANJURI.COM IKIP PGRI Bali menjadi Perguruan Tinggi di Bali yang pertama yang akan menerapkan KKNI...

  • Siswa SMPN 1 Denpasar Raih 2 Medali Emas Turnamen Karate Internasional
  • IKIP PGRI Bali Segera Terapkan KKNI


  • Akselerasi

    Waskita Karya: TC Untuk Proyek RSUD Badung Sudah Disiapkan

    KORANJURI.COM Tower Crane (TC) untuk proyek pembangunan Gedung Blok E...

  • Gedung Baru RSUD Badung Dilengkapi Helipad
  • Proyek RSUD Kapal Disidak Bupati
  • Ekbis

    Nur Andi Pimpin DPD REI DIY

    KORANJURI.COM - Nur Andi Wijayanto secara aklamasi terpilih sebagai ketua Umum.

  • Sleman Kembangkan Industri Bambu
  • Aset BPD Bali Cabang Tuban Capai Rp 1,8 T...